All for Joomla All for Webmasters

Kuliner Desa Kemiren

Kuliner Wong Osing
By:tiaranovitasari

Kekayaan dan keindahan alam Banyuwangi mewujudkan keberagaman budaya yang tercermin dalam keseharian masyarakat. Salah satunya budaya makanan yang dimiliki oleh masyarakat Osing, terutama orang-orang Osing di pedesaan. Yang masih menjaga resep warisan kuliner  dari para pendahulunya hingga saat ini.
Bukan sembarang hidangan. Resep warisan merupakan makanan yang biasa dihidangkan saat upacara adat atau ritual tradisi yang telah turun-temurun dari waktu ke waktu. Setiap komponen di dalam makanan itu mengandung makna dan perlambang tersendiri yang telah melekat dalam keyakinan masyarakat.
Berbeda dengan memasak makanan sehari-hari. Terdapat syarat dan aturan khusus dalam mengolah hidangan yang digunakan dalam upacara adat atau ritual tradisi mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, hingga cara menghidangkan makanan itu.
Berikut adalah beberapa makanan yang biasa disajikan saat upacara adat atau ritual tradisi, tapi kita juga dapat menjumpainya dan menyantapnya sehari-hari
1. Pecel Pitik
Pecel Pitik merupakan makanan khas Osing yang berbahan dasar daging ayam. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung. Daging ayam yang sudah dibersihkan dan dipisahkan dari jeroannya di bakar, kemudian disuwir-suwir dicampurkan dengan parutan kelapa dan bumbu khas nya.
Makanan ini sangat digemari oleh penduduk lokal ataupun wisatawan. Pecel Pitik biasanya dijumpai saat ritual tradisi seperti Tumpeng Sewu dan Barong Ider Bumi.

2. Jenang Abang
Sesuai dengan namanya hidangan ini dibuat dari beras yang dimasak dengan gula merah hingga menjadi bubur dan dikasih kuah santan saat menyantapnya. Hidangan ini dianggap sebagai hidangan ritual yang paling purba. Masyarakat juga percaya bahwa hidangan ini “tidak boleh” sembarangan dimasak. Dalam artian memasak hidangan ini benar-benar harus ada tujuannya seperti ketika ingin “nyelameti” (tasyakuran) tetapi tidak mampu menyediakan hidangan yang seharusnya, maka biasanya cukup dengan menyediakan jenang abang saja.

3. Ayam Lembarang
Dari namanya kita tau bahwa bahan utama hidangan ini adalah daging ayam. Masyarakat memilih daging ayam kampung untuk memasak makanan ini. Apalagi jika dihidangkan di acara ritual, ada keharusan untuk menggunakan ayam kampung. Ayam Lembarang ini merupakan makanan berkuah santan dengan warna kuning dan aroma yang menggugah selera makan. Biasanya dihidangkan bersama dengan “sego wuduk” atau “sego gurih”.

4. Sego Golong
Makanan ini begitu sederhana. Hanya terdiri dari nasi putih, sebutir telur rebus dan sambal yang dibungkus dengan daun. Namun, makna dan simbolisasinya begitu dalam. Sego golong diyakini masyarakat adalah makanan yang menyimbolkan sembilan lubang badan manusia. Sembilan lubang itu terdiri dari : dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, mulut, dubur dan kelamin. Manusia hendaknya mampu menjaga apa yang keluar dari sembilan lubang itu dengan mengendalikan hawa nafsunya.

5. Ayam Kesrut
Makanan yang pernah diangkat dalam Festival Banyuwangi Kuliner 2018 ini memiliki cita rasa asam, pedas, asin, manis yang seger banget. Membuat para penikmatnya jadi ketagihan. Hidangan ini kini sangat mudah dijumpai di warung-warung makan pinggir jalan hingga restoran mewah di Banyuwangi. Sama seperti hidangan khas lainnya. Ayam yang digunakan juga merupakan ayam kampung. Selain alasan menggunakan ayam kampung adalah memang sebuah keharusan dalam ritual tradisi, daging ayam kampung juga memiliki rasa yang lebih nikmat. Potongan buah belimbing wuluh dan kecombrang yang ditambahkan dalam kuahnya menjadikan ayam kesrut ini semakin kaya akan cita rasa. Rasanya cenderung ringan dan menyegarkan. Ayam kesrut bukanlah hidangan ritual seperti hidangan-hidangan sebelumnya. Tidak ada keharusan untuk menyajikan makanan ini. Ayam kesrut hanya sebagai pelengkap hidangan-hidangan lain dalam acara ritual tradisi individual “nyelameti” (tasyakuran) . Namun, makanan ini begitu digemari oleh setiap orang karena rasanya yang segar.